Categories
General

Jangan Takut Produk Bioteknologi

Lahan pertanian semakin sempit, sementara hama dan penyakit tak henti menyerang tanaman pa ngan. Sedangkan kebutuhan pangan yang terus meningkat harus dipenuhi. Inovasi pertanian perlu terus diupayakan demi tersedianya pangan secara global. Sa lah satu pilihannya adalah memanfaatkan produk-produk bioteknologi. Sebagai asosiasi nirlaba yang mewakili kepentingan petani dan in dustri benih ser ta pes tisida, Ketua Umum CropLife Indonesia, Midzon Johannis, mengatakan, CropLife Indonesia secara aktif dan berkesinambungan ikut mensosialisasikan keamanan bioteknologi dan benih.

“Kami kuat di penelitian. Hasil penelitian yang kami pasarkan untuk menjawab tantangan-tantangan pertanian,” katanya di acara bincang-bincang bertemakan “Stabilitas Keamanan dan Ketahanan Pangan melalui Inovasi, Teknologi Perlindungan Tanaman, dan Bio teknologi” di Jakarta (16/6). Selain Midzon, acara ini juga menghadirkan Muh rizal Sarwani (Direktur Pupuk dan Pestisida, Kementan) dan M. Herman (Ahli Bioteknologi) sebagai pembicara.

Pemanfaatan Bioteknologi

M. Herman, mantan Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Bio – gen) memaparkan, sejak 1996 hingga sekarang sudah 28 negara yang membudidayakan tanaman bioteknologi. “Tanaman bioteknologi utama yang dikembangkan adalah kedelai, jagung, kapas, dan kanola,” terangnya. Di antara keempat jenis tanaman biotek itu, menurut Herman, kedelai pa ling banyak dimanfaatkan karena tahan hama, toleran herbisida, dan kan dungan lemaknya bisa dimodifikasi.

Sejauh ini, sekitar 18 juta petani di dunia mengembangkan tanaman biotek pada lahan seluas 179,7 juta ha. Bila diakumulasikan, total luas tanaman bioteknologi sejak 1996 sampai saat ini sebanyak 2 miliar ha. Ini terbilang adopsi tercepat dalam teknologi tanaman. Lima negara utama pengembang tanaman biotek adalah Amerika Serikat seluas 70,9 juta ha, Brasil 44,2 juta ha, Argentina 24,5 juta ha, India 11,6 juta ha, dan Kanada 11 juta ha.

Aman

Menurut Herman, produk pertanian biotek yang dilepas ke pasar merupakan produk yang aman karena sudah melalui serangkaian uji dan sudah teregulasi. “Ibaratnya begini, mana mungkin saya tega memberi makan istri, anak, dan cucu saya dengan racun? Itu kan tidak masuk akal,” analogi Herman menggambarkan konsumsi produk biotek.

Sebelum dirilis, pro duk biotek tersebut har us ter uji aman lingkungan, aman pangan, dan aman pakan. Sejauh ini, sudah ada 32 pro duk bioteknologi di Indonesia yang sudah aman lingkungan, aman pangan, dan aman pakan tapi masih belum dikomersialkan. “Belum dikomersialisasi karena masih ada pedoman yang harus di susun menteri pertanian, yaitu pedoman pengawasan dan pascaproduksi,” papar doktor lulusan Universitas Georgia, Amerika Serikat itu.

Secara regulasi, sejak 1996 Indonesia sudah punya undang-undang pangan yang menerapkan pendekatan kehatihatian mengenai pangan berasal dari rekayasa genetik. Pada 1997 juga di bentuk Komisi Keamanan Hayati yang antara lain bertugas memberi rekomendasi pelepasan produk bioteknologi dan melakukan sertifikasi keamanan produk tersebut.