Categories
General

Membangun Masa Depan dengan Kakao

Masnawati baru saja menyelesaikan pendidikannya di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan. Petani belia asal Desa Tarenggek, Kecamatan Huwotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang sukses membudidayakan komoditas kakao ini merasa bahagia lantaran bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dari tangan sendiri.

Jika mengandalkan pendapatan orang tua, mungkin Masna, begitu ia disapa tidak akan meneruskan sekolahnya. Apalah daya, orang tua hanya petani kakao skala kecil. “Orang tua cuma budidaya kakao, untuk biaya kuliah tidak ada,” kisah Masna kepada AGRINA di Jakarta, Selasa (15/11).

Namun, keterbatasan keadaan tidak membatasi kreativi tas. Saat menginjak bangku SMK Per tanian, Masna ber kesempatan ma gang di salah satu perusahaan multinasional pengolah kakao, PT MARS Symbioscience Indonesia untuk belajar budidaya kakao. PT MARS pun membantunya mengembang kan pembibitan kakao. “Saya buat usaha pembibit an untuk dijual di petani. Saya mulai waktu masih sekolah SMK tahun 2012,” tuturnya. Da ri sinilah Masna membangun jalan masa depannya.

Pembibitan Kakao

Awalnya, gadis kelahiran 16 Desember 1994 ini hanya memproduksi 500 bibit kakao dalam 6 bulan. Harga jualnya sebesar Rp5.000/batang. Sebatang bibit kakao membutuhkan waktu setengah tahun agar siap jual.

Masna memperoleh bibit unggul kakao dan plastik penaung seharga Rp5 juta dari PT MARS sebagai modal usaha. Ia hanya mengeluarkan modal awal sekitar Rp250 ribuan untuk membeli polibag dan pupuk kompos. Sedangkan tanah sebagai media tanam diambil dari sekitar rumah. “Itu aja (modalnya), diputar-putar sampai bikin yang lebih besar,” ucapnya.

Selain membiayai hidup sehari-hari, uang hasil pembibitan kakao sedikit demi sedikit ditabungnya untuk mendaftar kuliah. “Untuk biaya kuliah tidak ada, jadi saya buat ini dulu untuk biaya kuliah. Idenya dari MARS,” lanjutnya. Apalagi, membuat bibit kakao juga cukup mudah.

Saat ini Masna bersama ayahnya sanggup memproduksi 20 ribu batang bibit selama 6 bulan. “Omzetnya Rp100 juta per 6 bulan. Keuntungannya 80%,” aku gadis berjilbab itu malu-malu. Pembeli bibit kakao adalah para petani dari Sulawesi. Permintaan bibit kakao cukup membludak, khususnya pada musim penghujan.

“Ini aja baru selesai nanam, orang sudah banyak yang pesan, jadi kewalahan,” imbuhnya sambil menjelaskan orang tuanya juga telah memiliki ke bun induk seluas satu hektar yang berisi 625 pohon induk kakao. Kakao yang dipanen dari kebun induk sebelumnya diseleksi terlebih dahulu. Kakao yang bagus akan dibuat bibit, sedangkan sisanya dijual ke pabrik pengolahan.

Melihat keberhasilan Masna, anak muda di desa nya pun turut memproduksi bibit kakao. “Mereka sudah lihat bukti dari saya, mereka ikut buat bibit,” ungkapnya.

Lantas, untuk mengembangkan usahanya, anak kelima dari tujuh bersaudara ini berencana menjual pestisida. “Kendalanya, nanti ke depan kalau orang sudah budidaya bibit semua, mungkin pembelian bibit akan berkurang. Jadi, saya mau kembangkan lagi dengan penjualan pestisida,” tandasnya optimis memandang masa depan.