Categories
General

Menjaga Ketersediaan Beras

Menurut Suharyo Husain, Wakil Ketua Ketua Komisi Tetap (Komtap) Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, konsumsi beras nasional saat ini mencapai 140 kg/kapita/tahun. Artinya, permintaan beras mencapai 35 juta ton per tahun dengan penduduk 250 juta jiwa. Dengan perkiraan jumlah penduduk 350 juta jiwa pada 2045, kebutuhan beras bisa menembus 49 juta ton/tahun jika mengikuti pola konsumsi yang sama.

Meski sebagai produsen ketiga beras dunia versi FAO, Indonesia masih mengimpor beras. kondisi ini, sambung Suharyo, karena petani menggunakan teknologi yang tidak optimal dari sisi produksi sementara konsumsi beras nasional sangat besar. Apalagi, 90% produksi beras berada di tangan petani kecil.

Ketersediaan Beras

Menilik data Badan Pusat Statistik, Franciscus Welirang menjelaskan, produksi beras dari 2001-2015 naik 2,5%. “Produksi (beras) 2015 45,3% lebih tinggi dari 2014. Tapi, ketersediaan beras naiknya rata-rata cuma 0,9%. Pertumbuhannya lebih rendah,” kata Ketua Komtap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia itu.

Sejak 2008 hingga 2016 harga beras di tingkat konsumen naik lebih dari dua kali lipat. “(Harga) terigu tidak naik. Beras itu naik terus ngikutin dolar. Padahal, katanya dalam negeri gitu lho. Yang terigu itu impor. Ini adalah hal-hal yang sangat aneh,” ujarnya geram pada acara Roundtable Ketahanan Pangan di Jakarta, Rabu (9/5).

Bahkan dalam catatan Franky sapaannya, beras menjadi komoditas impor pangan utama negara agraris ini bersama jagung, gula, daging sapi, susu, dan kedelai. “Rata-rata import dependency (ketergantungan impor) kita tahun 2006-2010 sekitar 2%. Ternyata, impor beras 2011-2015 naik jadi 3,7%. Kalau ada impor, barang itu berarti kurang. Pada 2016 kita masih impor beras 1,8 juta ton. Jadi, yang dibilang nggak ada impor juga nggak jelas,” ulasnya panjang lebar.

Rehabilitasi Irigasi

Pada kesempatan berbeda, Pending Dadih Permana, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan menyatakan, pihaknya gencar membangun irigasi pertanian guna mendukung peningkatan produksi pertanian, khususnya padi. Menurut Pending, problem mendasar pertanian padi sawah di Indonesia adalah ketersediaan air. Kondisi ini terjadi lantaran belum tersentuh atau rusaknya jaringan irigasi. “Kita memiliki 4,8 juta ha sawah irigasi teknis. Sebanyak 46% saluran irigasi atau sekitar 2,2 juta ha mengalami kerusakan dari tingkat ringan, sedang, dan rusak berat,” ungkapnya.

Pending menambahkan, tahun lalu pemerintah menganggarkan Rp726 miliar untuk program rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Rehabilitasi ini meliputi 454.253 ha wilayah irigasi tersier. Lokasi penerima bantuan rehabilitasi harus terkoneksi dengan jaringan primer dan sekunder yang berfungsi baik. Selain itu, luas lahan yang dilayani jaringan irigasi tersier minimal 25 ha yang dikelola oleh kelompok tani dan atau perkumpulan petani pengelola air.

Sementara, tahun ini anggaran rehabilitasi irigasi bernilai Rp117 miliar. Dirjen berharap program rehabilitasi jaringan irigasi mampu meningkatkan intensitas pertanaman setidaknya 2,00 se- hingga produksi padi bisa naik hingga 50%.

Rudyan Kopot, Ketua Komtap Perkebunan Kadin Indonesia mempertanyakan efektivitas pembangunan infrastruktur pertanian yang mampu meningkatkan indeks pertanaman padi itu. Berdasarkan pengamatan Kadin, di Bangka Barat, Kep. Babel dan Indramayu, Jawa Barat, banyak areal persawahan yang tidak teririgasi, sedangkan areal bukan sawah justru terairi. “Perlu kerja sama antara Kementerian Pekerjaan Umum, Pemda, dan Kementan. Jangan sampai sudah susah-susah bangun waduk dan irigasi, tidak optimal,” sindirnya halus.